Thursday, December 18, 2008

Pemimpin dan Demokrasi

Oleh: Andi Firdaus

REFORMASI politik di Indonesia telah berlangsung lama. Ini terjadi akibat bangkitnya gerakan mahasiswa pada tahun 1998. Pasca-reformasi itu pula, segudang harap dinanti-nanti oleh ratusan juta penduduk Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Menanti yang tak lain adalah perubahan dalam berbagai sektor. Hukum, politik, sosial dan tentunya bidang ekonomi.

Reformasi menuju demokrasi bukan hanya sekadar euforia petinggi dan elit politik di negeri seribu pulau ini. Jauh dari itu, demokrasi yang diinginkan adalah bagaimana menjadikan nilai demokrasi itu sendiri bagian yang tak terpisahkan untuk aplikasi kejujuran yang substansial, bukan symbol semata-mata.

Mari sejenak merenung realitas kekinian situasi demokrasi yang kini sedang berjalan. Atau sejenak melihat barometer yang notabenenya menjadi penting untuk dijalankan demi jutaan rakyat yang masih berharap-harap cemas. Karena cemas terhadap perubahan yang stagnan, sehingga menimbulkan apatisme rakyat di berbagai pelosok desa di Indonesia.

Misalnya, kita bisa menelisik sistem pertanggungjawaban publik sebagai fondasi good governance. Karena sebelumnya, sistem hukum yang lemah mengakibatkan negeri ini selalu meninggalkan sejarah kelam. Hingga meninggalkan pesimisme dalam setiap memori kepada, bahwa pemerintah tidak serius melakukan tindakan penegakan hukum, terutama bagi pelaku korupsi.

Menghilangkan rasa pesimis rakyat adalah tugas berat pemimpin di negeri yang sangat plural ini. Tugas yang tak bisa diremehkan untuk menancapkan kepada jutaan kepala penduduk bahwa, pemerintah serius menegakkan hukum. Termasuk membangun institusional, baik secara politik, ekonomi, hukum dan birokrasi di level pemerintah itu sendiri.

Bagaimana dari aspek hukum? Tentunya juga perlu perangkat hukum dan lembaga pengawasan yang ketat. Dalam hal ini, pemerintah dituntut berani dan mandiri dalam melakukan pengawasan yang konsisten, dan konsistensi penegakan hukum harus dibuktikan dengan nyata.

Selain itu, responsibility yang merupakan kepekaan menangkap aspirasi masyarakat secara luas. Ada banyak aspirasi dari berbagai daerah di Indonesia yang belum selesai. Kemudian melahirkan Pekerjaan Rumah (PR) yang menjadi duri dalam menjalankan roda pemerintahan di Indonesia. Sebut saja, aspirasi ratusan korban pelanggaran HAM ketika Aceh dilanda konflik dan tuntutan keadilan dari rakyat Papua.

Mengingat ada banyak kelemahan pada masa sebelumnya, maka pemimpin harus mengupayakan sistem peradilan yang kuat dengan melakukan perubahan pada administrasi, meningkatkan kemampuan pada lembaga perwakilan rakyat serta adanya pendidikan hukum lanjutan dan pengujian berkenaan disiplin profesi hukum itu sendiri.

Kalau dari sisi politik, jika kita ingin melihat liberalisasi politik awal ini, maka tidak selalu berhasil oleh sebuah pemilu untuk membentuk pemerintahan baru yang kemudian masuk ke masa transisi. Sehingga tak ada garansi bahwa masa transisi tersebut berhasil mengantar kita ke suatu pencapaian untuk melakukan konsolidasi demokrasi.

Dalam mewujudkan itu maka pemimpin pemerintah perlu melakukan langkah yang tepat. Termasuk menyiapkan peluang demokratisasi dan menutup ruang otoritarian. Sehingga pada masa transisi ini ada tabiat baru dalam kehidupan masyarakat. Secara politik juga bagaimana membentuk masyarakat yang terus menjadi control atas kebijakan pemerintah.

Karena tanpa pelibatan partisipatif masyarakat mewujudkan good governance di era demokrasi, maka membangun Indonesia jauh dari harapan. Jika transparansi terus dilakukan dengan melibatkan masyarakat sebagai control social, maka konsolidasi demokrasi untuk sebuah wacana membangun Indonesia bukan sebuah euforia.

Kita berharap, era demokrasi ini benar-benar menjadi era baru dalam penegakan hukum yang adil terhadap masyarakat, pengembalian sumber daya manusia yang handal, penyaringan aspirasi masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan, pelayanan publik yang professional serta penegakan hukum secara adil. Hingga Indonesia menjadi daerah dengan sistem good governace yang selalu dibanggakan.




Selengkapnya...

Sunday, November 2, 2008

LUKA BELUM SELESAI

Oleh: Andi Firdaus

Bang Mus pernah menjadi satpam di hotel Renggali, Takengen, Aceh Tengah tahun 1990. Badannya masih kekar. Kumisnya tebal dan lebat. Rambut cepak. Selembar foto masih terpampang di dinding berkayu lapuk. Saya mengamati foto dalam bingkai itu penuh tanya. Masih atletis, janggung dan gagah.

LANCOK adalah desa seperti kebanyakan dusun di Aceh. Ada rumah sekolah, meunasah, kedai kopi, dan hilir mudik para penggarap sawah yang lalu lalang. Kehidupan masyarakat berjalan seiring berjalannya waktu. Lancok masih berada Kecamatan Bandar Baru, Pidie.

Selebihnya empat desa tetangga, Lancok Mesjid, Sawang, Lancok Baroh dan desa Manyang. Jaraknya dengan kota Kecamatan Bandar Baru, sekitar 3 kilometer.

Jika menuju desa itu, kita dihadapkan pada bentangan sawah dan pemandangan petani sedang menggarap sawah. Ada lembu sedang membajak, perempuan menanam padi, burung-burung berkicau, juga anak-anak lari tanpa baju. Benar-benar suasana desa.

Dari kelima desa, Lancok terbilang beda. Di desa ini Mustafa menghabiskan hari-hari bersama warga lain. Pembawaannya santai, bersahaja dan ramah.

Tak ada pertengkaran dengan tetangga meski hidupnya sudah puluhan tahun. Siang itu penampilannya sederhana. Memakai baju putih abu-abu layaknya lelaki seusianya. Meski penampilan sederhana, tapi tak jarang senyumnya yang istimewa.

Jika senyum, gigi berkarat. Pecandu rokok. Matanya sebelah kanan kecil, hidungnya bergores bagai disayat pisau. Kulit hitam, matanya lembam. Orang-orang Lancok memanggilnya Bang Mus.

Lebih akrab. ”Nama lengkap Mustafa Usman,” Katanya sambil mengeluarkan senyum.
Mustafa dilahirkan pada 12 Januari 1970. Usianya kini memasuki 38 tahun. Pertemuan saya dengannya berlangsung sederhana. Di atas tikar ukuran 3x3 kami duduk. Kaki terlipat dan saling berhadapan.

Di samping kanan terletak satu kursi papan warna dasar kayu. Tak ada cat warna-warni layakya rumah warga lain. Ada meja kecil di sebelah kanan tak beraturan. Di atas kepala kami ada tali, penuh dengan sangkutan kain.

Celana dalam, baju putih pendek dan kebayak warna biru. Semua kotor kena lumpur. “Ini lah rumah kami apa-adanya,” sambil tangannya memegang sebatang rokok siap dihisap. Kami duduk dengan obrolan santai. Bersila tikar pandan, di atas serambi rumah.

Mustafa menghabiskan separuh usianya di rumah yang masih berarsitektur ke-Aceh-an. Atapnya rumbia. Di depan rumah terlihat kandang lembu, dan sebatang pohon jambu. Benar-benar bukan tata ruang yang bagus, apik. Apa adanya. Bukan pemandangan indah memang. Dari sudut kesehatan lingkungan juga tak elok.

Jika di depan rumah ada kandang lembu dan taiknya berserakan. “Kesehatan lingkungan perlu diperhatikan agar penyakit tak mudah menyerang,” kata perawat kesehatan, Anita yang baru dua tahun menikah dengan pemuda setempat.

Senin siang, 3 Februari 2008 saya bertemu dengan laki-laki biasa, bukan artis yang beritanya sering menghiasi halaman media, meski berita tak berbobot, penuh gosip dan bahkan soal foya-foya selebriti di hotel mewah. Untung saja Mustafa tak nonton acara TV semacam cek dan ricek, kasak-kusuk dan bibir. Mustafa seumur hidupnya belum pernah masuk surat kabar, apalagi televisi.

Tak ada wartawan yang datang ke pelosok desa tempat ia tinggal, meski hanya sekadar wawancara singkat, bukan eklusif. Tak ada media elektronik bertemu dengan Mustafa, meski hanya merekam sekilas gambar wajahnya yang tua, bersahaja.

Sama sekali belum ada. ”Wartawan jino le beurita peujabat dum, asai haba pejabat di tameng koran (wartawan sekarang banyak berita pejabat, kalau kata-kata pejabat masuk koran),’ Bang Mus coba menyentil. Keinginan saya berjumpa dengan Bang Mus seharusnya sudah kulakukan lima tahun silam. Meski profesi saya sebagai wartawan freelance.

Namun, ketika itu Aceh dalam situasi konflik. Perang. Ini berawal ketika pada Senin pukul 00.00 Wib, 19 Mei 2003 pemerintah Indonesia mengumumkan status darurat militer. Bahaya bagi keselamatan saya jika lalu lalang di pelosok-pelosok desa ketika itu. Pengumuman itu tak terkecuali berimbas ke desa Lancok. Desa di mana Mustafa tinggal dalam kondisi tubuhnya yang lusuh.

Di sebuah rumah Aceh yang tak tertata dengan rapi, apik dan semak. Lorong menuju rumah Mustafa juga tak mudah masuk bagi setiap orang. Pandangan mata orang was-was. Tamu yang datang tak sedikit yang di plototin. Curiga.

Sejak Lancok berada di bawah status darurat militer seperti desa-desa lainya di Aceh, sepertinya warga sudah memahami ilmu kecurigaan. Bak ada pelatihan curiga yang diberikan sebelumnya. Setiap tamu yang masuk akan dicurigai dengan spontanitas. Apalagi tamu yang baru pertama sekali mengunjungi ke desa tersebut.

Di samping Bang Mus duduk seorang pria, rambut gondrong, tingginya sekitar 170 cm, kulit putih, badannya tegap. “Susah bila konflik, untung ada damai,” kata Muzakir pemuda desa setempat setengah berharap agar damai terus membumi di Aceh. Kecurigaan warga pada tamu bukan tak beralasan.

Banyak kejadian di depan mata, terus lengket di kepala pemuda dan warga hingga kini. “Kami masih ingat,” kata pemuda berusia 29 tahun singkat. Tahun 1990 ketika Aceh berada di bawah payung Daerah Operasi Militer (DOM) misalnya, sesosok mayat ditemukan warga persis di atas badan jalan menuju arah kota Kecamatan Bandar Baru. Tepatnya di depan pabrik pengolah padi milik Muhammad (50). Tak ada yang melihat di malam buta itu.

Paginya, seorang pria tergeletak tanpa identitas. “Semua warga tau, dulu ditemukan mayat di sana,” jelas Zakir sambil tangannya menunjuk ke arah pabrik yang dulunya sempat menghebohkan warga sekitar. Mayat tersebut ditemukan warga tanpa identitas. “Yang jelas bukan orang dari kampung ini,” Zakir meyakinkan saya ketika kami minum kopi bersama di desa itu.

Bagi anak muda, tinggal di kampung tanpa pekerjaan merupakan ketakutan tersendiri. ”Saya pergi ke Malaysia, cari kerja,” kata bang Mus seraya menjelaskan bahwa kepergiaanya ke negeri jiran untuk menghindari konflik.

Lima tahun Bang Mus melalang buana di negeri mantan perdana menteri Muhazir Muhammad. ”Bang Mus merantau ke negeri orang gak pulang-pulang,” kata Zakir. ”Nanggroe teh Kir (negeri mana Kir)?” Jawab Bang Mus sambil wajahnya menoreh Zakir.

”Kalau jadi anak muda jangan mau tahan sepatu pa’i (Sebutan untuk tentara pemeritah Indonesia) di kampung,” sindirnya lagi.

Sebelum ke malaysia, Bang Mus pernah menjadi satpan di hotel renggali, Takengen, Aceh Tengah tahun 1990. Badannya masih kekar. Kumisnya tebal dan lebat. Rambut cepak. Selembar foto masih terpampang di dinding berkayu lapuk.

Saya mengamati foto dalam bingkai itu penuh tanya. Foto Bang Mus atletis, jangkung. ”Itu foto tahun 90-an saat saya masih menjadi pengaman hotel,” jari tangan menunjuk tepat ke arah wajahnya.

”Foto ini di depan hotel Renggali,” tuturnya semangat.

MUSTAFA kini sendiri. Bukan seperti dulu gagah dan tegar. Tak banyak yang tahu Mustafa anggota Gerakan Aceh Merdeka. Pada tahun 90-an, sebutannya masih AM (Aceh merdeka), ia bergabung di Malaysia.

”Kami dulu mendengar saja Mus anggota Aceh Merdeka, tapi tak pernah jumpa,” sebut Rusyidah Ahmad (35) tetangga Mus di lain waktu kepada saya.

Perjuangan Mus di negeri jiran bukan tak ada tantangan. Mus harus lari bersembunyi dari kejaran polisi Malaysia, karena dianggap sebagai pendatang haram. Tapi tak jarang juga tertangkap akhirnya menjalani hukuman di penjara Malaysia.

”Kena tangkap sangat banyak, paling tiga bulan kemudian lepas,” dengan bangga Bang Mus bercerita. Hampir jutaan orang Aceh punya mimpi ketika itu. ”Bangsa Aceh ingin merdeka dari pemerintah Indon,” ketus Bang Mus sambil kedua tangannya sibuk memperbaiki sandal jepit.

Zakir tersenyum. ”Aceh merdeka tinggal mimpi Bang Mus,” jawab Zakir spontan. ”Perjuangan masih panjang,” timpalnya lagi. Pembicaraan berhenti. Zakir menadahkan wajahnya ke langit. ”Tarek rukok-rokok dile (Hisap rokok dulu),” gudang garam merah dia sodorkan.

Ekonomi Bang Mus payah, tak ada pekerjaan tetap. ”Rukok nyoe ata gob bie (rokok ini pemberian orang),” logat Acehnya kental. Sulit merubah ideologi merdeka yang sudah tertanam di kepada Bang Mus sejak puluhan tahun. Ia juga korban penyiksaan.

Masih ingat dalam kepala hampir jutaan rakyat Aceh, ketika pemukulan orang-orang Aceh di negeri jiran. Bang Mus salah satu dari sekian ribu orang yang hampir mati disiksa. Camp tahanan Semenyih, Port Klang, Kuala Lumpur pagi sekitar pukul 05.00. Bang Mus masih lelap tidur. Berbantal lengan, berkasur lantai dari semen.

“Doorr…dorrr,” suara tembakan membangunkannya. “Tahanan lari tak menentu arah,” sambungnya. Dalam sekejab Bang Mus disiksa, dipukul, ditendang hingga badannya seperti mayat.

Tragedi yang merengut nyawa ratusan orang Aceh mati tak beralasan. Selebihnya 45 ribu lebih warga Aceh dan pencari suaka panik. Begitu data sementara yang dikeluarkan konsul RI di Malaysia. Peristiwa Semenyih, 26 Maret 1998 adalah tragedy

menghentakkan dunia Internasional. Tak tanggung-tanggung, organisasi Solidaritas Perempuan (SP) menghimbau kepada lembaga seperti ILO, UNHCR, ICRC, Komisi HAM PBB untuk menyelenggarakan aksi bantuan kemanusiaan. Menurut Bang Mus, para tahanan saat itu diperlakukan tidak manusiawi.

Diperlakukan seperti binatang, dihina dan disiksa. “Kami dikasih racun oleh penjaga penjara,” katanya. Alasan tersebut membuat tahanan tak tahan diperlakukan layaknya binatang.

“Kami masih punya harga diri, kami manusia,” lanjut Bang Mus sambil wajahnya menoleh ke Zakir.

“Kami lawan,” suaranya sedikit tinggi. “Phet that Kir (Pahit sekali Kir),” dengan nada serak Bang Mus mengeluarkan kata.

“Popor senjata mengena ke wajah dan mata saya. Kami diserang pada malam gelap saat kami sedang lelap tidur.

Suara tembakan terdengar di mana-mana, kami kocar-kacir,” pelan-pelan Bang Mus memegang wajahnya. “Aneuk mata teuset u lua (Biji mata keluar),”

“Ini contoh penyiksaan,” jari telunjuknya mengarah ke mata sebelah kiri.

“Saya pingsan tak sadarkan diri,” kepalanya menggeleng-geleng.

Tak hanya camp Semenyih ratusan orang mati dan ribuan lainnya cedera. Machap, Umbo dan camp Langgeng juga terjadi insiden yang sama. Para tahanan tak berdaya. Bukan hanya pendatang haram (ilegal) merasakan penyiksaan, pencari suaka politik semacam Bang Mus juga ikut menjadi sasaran kekerasan.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Suara Rakyat Malaysia (SUARAM) menggugah prihatin. Mereka mendesak kerajaan menghentikan pendekatan kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap imigran Indonesia dan pencari suaka di Malaysia.

Selain itu, LSM juga meminta agar segera mengumumkan nama-nama korban yang tewas dalam kejadian di Semenyih, Machap, Umboo dan Lenggeng.

Demikian siaran pers yang dikirim kepada pemerintah Malaysia dan Indonesia melalui seruan solidaritas Internasional untuk perlindungan Hak Asasi Imigran Indonesia di Malaysia, 22 April 1998.

“Muka saya berdarah, kaki patah, mata tak bisa melihat apapun,”

“Terus….terus,” saya mencoba bertanya.

“Supot supeut hana kuthe droe kuh (gelap tanpa sadar diri),” sebutnya sambil menarik asap rokok dalam-dalam. Menggunakan kapal TNI angkatan laut, bang Mus dipulangkan dalam kondisi tak berdaya.

Tubuhnya tak bergerak. Warga menanti kedatangan bang Mus. Isak tangis tak tertahankan. “Bang Mus seperti mayat,” kata Rusyidah. “Dia hidup tapi tidak bisa berbuat apapun, hanya terbaring di ranjang ,” sambungnya lagi.

15 AGUSTUS 2005, secercah harapan datang. Tsunami 26 Desember 2004 menggugah pihak bertikai bicara damai. Bermil-mil dari Lancok, Kota dingin Helsinki menjadi pembicaraan mewujudkan perdamaian. Ada pertimbangan kemanusiaan di balik perlawanan yang digencarkan lebih 30 tahun.

Rekonstruksi, rehabilitasi, reintegrasi, rekonsiliasi adalah agenda diantara segudang agenda lainnya. Korban konflik menjadi bagian terpenting mewujudkan damai permanen. Jika Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh berperan mengurus korban tsunami, maka Badan Reintegrasi Aceh (BRA) ditujukan untuk korban konflik.

Bang Mus korban nyata yang bisa dilihat dengan mata kepala. Tak perlu riset, penyelidikan, atau pembuktian jenis apapun. Jalannya pincang, matanya buta. Tak memiliki pekerjaan karena fisiknya tak tahan.

“Hek that bantuan lawet njoo (susah dapat bantuan),” dia sambil bergurau.
“Datang saja ke BRA,” saran saya.

“Ke BRA?” wajahnya memperlihatkan ketidakpercayaan.

“Saya tak bisa buat proposal, kalau dikasih saya ambil,” ungkapnya.

Cerita bang Mus, dirinya pernah ke Dinas Sosial Kabupaten Pidie tak terhitung jumlahnya, apalagi ke BRA. Jika ada informasi pengobatan gratis, baik dari LSM lokal maupun internasional, tak pernah ia sia-siakan. Siapa tahu nasib mujur berpihak padanya.

Tak banyak kepentingan, hanya sekadar biaya pengobatan sebelah matanya yang rabun, dan fisiknya yang cacat. Itu pun harus menunggu tanpa kepastian. “Begitulah,” nada pasrah dia keluarkan.

Hari-harinya berharap belas kasihan. Berharap dibayar secangkir kopi dan sebatang rokok sudah lumayan. Berharap banyak dari pemerintah bukan pekerjaan mudah. “Usaha sep that ka (Usaha sudah melebihi),” sebutnya.

Saya sempat berpikir lama. Berpikir apa yang diperbincangkan di Helsinki untuk korban seperti bang Mus. Bila bang Mus bagian yang terlupakan, bagaimana dengan ribuan korban yang lain? “Reintegrasi bukan untuknya?” batinku.

Juni 2008 Bang Mus tak bisa berbagi cerita lagi. Dari balik kaca mobile phone sore itu, sebuah Sort Service Message (SMS) memberi tanda; Andi, bang Mus meninggal.

Saya bergegas melayat ke rumah duka. Tepat pukul 12.00 WIB bang Mus disemayamkan dengan dihadiri warga desa setempat. Saya berada di belakang iringan jenazah menuju pemakaman terakhir. Menyiratkan saya pada cerita-cerita tentang kematian reintegrasi yang tak berpihak.

"Bang Mus meninggalkan luka yang belum selesai," bisik teman seperjuangannya.


Selengkapnya...

Wednesday, October 29, 2008

CELENG

Oleh: Andi Firdaus

Di sebuah warung, apa Ma’in menebar senyum. “Péu haba anéuk rantô,” celutuk sambil sebatang rokok ‘plat’ merah menyentuh bibirnya. Sudah kebiasaan sapaan ala kadarnya menyerang pemuda yang baru saja pulang dari rantau. Apa Ma’in kenal betul wajah dan gaya orang asing.


Apa Ma’in adalah penghuni tetap desa itu hampir 50 tahun. Maklum dia kenal betul siapa saja yang lewat di depannya. Tak jarang, sesangging senyum dilempar begitu saja. “Péu nacan di rantô, Ku déungê makmu,” sorot matanya menantang. Dia tak sekadar jeli melihat fasion dan orang asing, tapi kondisi politik juga tak dibiarkan lewat begitu saja.

Kebiasaan meukliép di satu tempat sudah seperti tradisi. Duduk di warung kopi untuk sekadar obrolan lepas memang biasa. Separuh kopi hitam ikut menghias meja di depannya. Meski jarum jam mendekati angka 2 siang itu, tak membuat Apa Ma’in beranjak dari kursi bambu panjang yang terlihat lapuk.

Geraknya ceria, santai bersahaja. Raut wajah tak memperlihatkan ia seorang yang sedang dirundung gelisah. Tak juga menampakkan khawatir. Jika pun ditanyakan soal politik kekinian, tanpa olah pikir pun Apa Ma’in spontan bisa menjawab. “Pulitek péu, ka 40 thön gampöng manténg lagé njöe (Politik apa, 40 desa masih seperti ini),” celutuknya

Perlahan dia angkat sarung. “Njöe ija krông manténg hana èk tablöe le (Kain sarung aja tak sanggup kita beli lagi),” pelan-pelan sarungnya dirunkan kembali. Celoteh soal pembangunan siapa saja boleh. Bicara péumakmu gampông hampir setiap hari di televisi. Apalagi ini zaman caleg-caleg tahun 2009 mendatang. “Ken caleg, tapi celeng,” maksudnya semacam celeng yang bisa kumpulkan uang bayak.

Celeng Masjid, celang anak yatim, rumah dhuafa, dan bahkan celeng korban cacat dan sebagainya. Bicara soal celeng, Apa Ma’in punya cara dan pola pikir tersendiri. “Méukesud Apa Ma’in péu?” karena penasaran saya ikut komentar juga. “Nyan hana katéupu! Rugo kajak sikula panyang,” helanya.

Kamu kan bisa lihat betapa banyak celeng-celeng muncul menjelang tahun 2009 mendatang. Mereka sudah tentu dan pasti menjadi celeng, bukan caleg. Karena setelah mereka jadi celeng benaran, pasti akan dikumpulkan uang pembangunan Masjid, uang korban konflik, uang kaum dhuafa, untuk dikumpulkan dalam satu celeng. Ditabung!

Apa Ma’in hanya korban positif atas analisanya sendiri dengan melihat lakon para elite. Perdebatan di desa-desa menjadi apatisme tersendiri melihat karakter pemimpin. Mereka tak pandai berdebat, tapi mereka lebih pintar berdialektika dengan realitas apa yang menjadi nyata di depan mata. Percaya tidak percaya, njöe kéu biet-biet!


Selengkapnya...

Tuesday, October 28, 2008

KREATIVITAS

Oleh: Andi Firdaus

Setiap individu mempunyai cita-cita. Tapi mewujudkannya tanpa perjuangan merupakan sia-sia, alias cét langét. Perjuangan juga perlu didampingi pengorbanan tinggi. Kén cilét-cilét, jèut mèu kliép. Jika bukan begitu, maka kesuksesan jarang didapat dalam pemahaman standar.


Dari banyak hal yang mempengaruhi kesuksesan, kreativitas adalah salah satu di antaranya, bahkan ia jarang ditemukan. Pun ditemukan maka perlu dihargai. Tak jarang seseorang bisa sukses karena dampak dari sebuah kreativitas.

Bila Anda menganggap bahwa kreativitas adalah bawaan, secepatnya bisa dihilangkan. Kreativitas atau kemampuan memecahkan masalah adalah usaha bagaimana menghadapi tantangan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Latihan mental sebagai usaha awal mungkin diperlukan.

Menurut Dokter Harvey C.L, ada tiga jenis orang kreatif, mengumpulkan gagasan dan hal yang asing untuk dirancang kembali. Kemudian hal yang lama ditempatkan ke dalam hal yang baru. Mungkin ini sebuah proses menciptakan kreativitas.

Pada dasarnya setiap orang memiliki jiwa kreatif, namun tanpa latihan mengasah pola pikir dengan membangkitkan dialektika-dialektika, maka jiwa kreatif akan tenggelam. Dan orang lain tidak akan pernah bisa melihat dan menikmatinya.

Ide kreatif tidak akan lahir bila ketakutan lebih dulu menjadi momok yang bersarang di kepala kita. Sama sulitnya ketika menghargai kreativitas orang lain, meski lebih bermakna untuk bisa dirasakan secara bersama. Ini tentunya sedikit diberi penekanan kecil untuk mengacu kepada tujuan; Sukses.

Jika tekanan tanpa diringankan, maka yang datang justru rasa frustrasi atau mengalami hambatan tinggi. Karena orang kreatif bekerja pada kondisi dan lingkungan yang baik, atau pada situasi ‘dingin’, atau hubungan yang hangat.

Jadi, membangun kreativitas dari orang lain adalah bagaimana menjalin hubungan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. Sehingga tercipta kreatif dari orang-orang itu secara pribadi-pribadi. Sebab, setiap individu adalah individu yang lain.
Menciptakan ide kreatif tidak semudah mengeluarkan ludah. Butuh bantuan banyak orang yang membela di saat sulit, membina hubungan secara formal bahkan memberi toleransi. Tak jarang pula menghargai aktivitas individu lainnya.

Jika pun gagal pada suatu saat, orang kreatif selalu akan bilang; Itu merupakan langkah awal untuk sukses, menciptakan kepercayaan diri dan yang penting adalah sebagai keleluasaan bergerak demi mencapai cita-cita.



Selengkapnya...

KOMUNITAS PENULIS BEBAS ACEH

Subscribe to penulisbebas-aceh

Powered by us.groups.yahoo.com